Lebih Dalam Mengenai Krisis IPv4

Jaringan internet terdiri dari beragam perangkat, server, router, komputer, laptop, handphone, yang saling terkoneksi satu sama lain, dan mempertukarkan informasi. Supaya bisa saling terkoneksi, setiap perangkat diberi alamat, dan sistem pengalamatan yang sekarang kita gunakan adalah IP Address versi 4 (IPv4).

IPv4 terdiri dari 4 segmen, setiap segmen terdiri dari angka 8 bit, dibatasi dengan notasi titik. Contohnya: 192.168.0.1. Total memiliki jumlah alamat 2 pangkat 32, atau sekitar 4,29 milyar alamat.

Seyogyanya, setiap perangkat di jaringan memiliki IP Address sendiri-sendiri, dan bersifat publik. Penggunaan IP address publik ini akan memungkinkan berjalannya beragam aplikasi, terutama aplikasi yang menuntut adanya end-to-end-connectivity.

Coba kita bayangkan, saat ini jumlah penduduk dunia mencapai 7 milyar, dan penetrasi internet berkisar 2 milyar pengguna. Kalau setiap pengguna hanya memiliki 1 buah perangkat yang terkoneksi ke internet, berarti 50% dari total alamat IPv4 sudah habis terpakai. Padahal, setiap orang saat ini bisa memiliki beragam gadget. Komputer di kantor, komputer di rumah, laptop, beberapa handphone, dan perangkat-perangkat lainnya seperti NAS, televisi, dll. Belum lagi kebutuhan IP address pada infrastruktur seperti router, bandwidth management, server, firewall, access point, switch, dll. Tidak heran kalau alamat IPv4 yang tersedia sudah sangat tipis jumlahnya.

Tidak Semua Bisa Digunakan

Dari total seluruh alamat yang tersedia, tidak seluruhnya bisa digunakan untuk pengalamatan secara umum (unicast). Ada beberapa segemen alamat yang dicadangkan/difungsikan secara khusus untuk kebutuhan tertentu.

Berikut ini daftar IP address yang difungsikan untuk keperluan khusus, berdasarkan RFC terbaru :

Dari hasil kalkulasi matematis, banyak pakar jaringan memprediksikan bahwa free pool di IANA akan habis pada pertengahan tahun 2011. Dari grafik berikut ini bisa terlihat bahwa habisnya IPv4 tidak lama lagi.

Apa yang akan terjadi kalau IPv4 habis?

Tentu saja, internet tidak akan seketika berhenti. Internet didesain sebagai sebuah sistem yang sangat tahan terhadap gangguan, bahkan terhadap bahaya bom nuklir sekalipun. Internet tetap akan berjalan. Tetapi, di sisi penyedia jaringan, habisnya IPv4 ini akan menghambat pertumbuhan pengguna internet baru.

Pengguna yang tadinya bisa menggunakan IP address publik, terpaksa harus menggunakan IP address privat. Hal ini akan berakibat adanya keterbatasan akses, dan tidak bisa menikmati aplikasi/layanan yang menuntut adanya end-to-end connectivity, karena mesin yang memiliki IP privat, hanya dapat mengakses internet, tetapi tidak dapat diakses secara langsung dari internet (akses hanya terjadi 1 arah saja).

Migrasi ke IPv6

Jalan satu-satunya yang dipercaya akan tetap menjaga hidup dan tumbuhnya internet adalah penggunaan IP address versi 6 (IPv6). IPv6 memungkinkan pengalamatan yang jauh lebih besar, sekitar 3 triliun triliun triliun trilun alamat. Selama masa transisi, IPv6 dan IPv4 akan dijalankan bersama-sama, dan dikenal dengan nama dual stack.

Pengguna yang masih hanya menggunakan IPv4 saja, tanpa versi 6, akan mengalami kesulitan untuk mengakses situs atau layanan yang hanya berbasis IPv6. Sebaliknya, layanan yang hanya berbasis versi 4, akan tidak bisa diakses oleh pengguna yang hanya berbasis IPv6. Jaringan IPv6 dan jaringan IPv4 tidak bisa saling terhubung. Dan jangan heran, di beberapa negara saat ini sudah ada layanan internet yang diberikan hanya dengan IPv6, tanpa IPv4. Dan di kemudian hari, diprediksikan jumlah pengguna seperti ini akan tambah banyak.

This entry was posted in article. Bookmark the permalink.

One Response to Lebih Dalam Mengenai Krisis IPv4

  1. Pingback: Alexander7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>